|
Welcome To My Website Kebajikan ( De 德 ) Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 71, Mari Wujudkan Indonesia yang lebih baik...Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Latest Post

Kisah Haru di Balik Keputusan Kakek 70 Tahun Beli Boneka Seks

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Rabu, 24 Agustus 2016 | 15.22


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Sepeninggal orang yang paling dicintai yakni suami atau istri, tentu hal ini membuat siapa saja merasa sedih dan terpuruk. Apalagi, jika orang yang telah meninggal tersebut telah menjadi teman hidup selama bertahun-tahun juga puluhan tahun. Tak hanya kesedihan yang dirasakan, kesepian juga rasa rindu yang teramat dalam juga sering dirasakan oleh orang yang telah ditinggalkan. Hal ini seperti apa yang dirasakan oleh seorang kakek berusia 70 tahun bernama Zhang Wenilang berikut ini.

Dikutip dari laman mirror.co.uk, kakek Zhang yang merupakan mantan dokter tersebut telah kehilangan sang istri untuk selama-lamanya sejak setahun yang lalu. Meski sang istri telah pergi setahun yang lalu, ia merasa bahwa sang istri masih ada. Keberadaan sang istri ia ciptakan sendiri dengan membeli sebuah boneka seks seharga 30 juta sebulan setelah sepeninggal sang istri.

Boneka seks dianggap sebagai raga kedua sang istri oleh kakek Zhang
Dari beberapa laporan yang ada, istri Zhang meninggal karena ia menderita kanker pankreas. Selama menikah bersama Zhang yakni 40 tahun, sang istri melayani Zhang dengan sangat baik. Ia juga memberikan cinta yang benar-benar tulus kepada Zhang meski selama pernikahan mereka, mereka tak pernah dikaruniai anak.

Kakek Zhang sangat sedih saat sang istri meninggal dunia
Sayang, karena kanker pankreas, istri Zhang pun meninggal dunia. Karena kepergian istri inilah, Zhang mengaku bahwa ia sangat sedih. Ia masih belum percaya bahwa sang istri telah pergi mendahuluinya. Agar ia tetap ingat dengan sang istri dan bisa selalu ada di sampingnya, Zhang pun akhirnya membeli boneka seks yang terbuat dari silikon dan bisa berbicara maupun diatur suhu tubuhnya.

Kakek Zhang dan boneka seks yang dianggap sebagai raga istri kedua
Zhang percaya bahwa boneka seks tersebut adalah raga pengganti buat sang istri. Selama ia memiliki boneka tersebut, Zhang selalu memperlakukan boneka itu seperti ia memperlakukan sang istri. Ia juga memakaikan pakaian istri di tubuh boneka. Kepada wartawan setempat, Zhang mengaku bahwa boneka seks itu adalah istrinya sekarang. 

Ia mengatakan, "Saya tidak ingin dia kesepian di luar. Saya selalu ingin tinggal bersama dia di dalam rumah. Saya ingin melihat istri saya setiap hari. Arwah istri saya pasti ada di raga boneka ini. Ini adalah raga istriku yang baru."

Saat ini, setelah setahun Zhang memiliki boneka tersebut, boneka itu mulai rusak. Zhang merasa bertambah kecewa dan sedih. Ia berencana menggugat perusahaan pembuat boneka karena kerusakan yang dialami boneka. Selama ini, setelah ia membeli boneka seks tersebut, kakek Zhang bahkan dikatakan tak pernah bersosialisasi dengan orang lain di sekitarnya. Ia hanya mau menghabiskan waktu bersama boneka yang telah dianggap sebagai istrinya.

Kakek Zhang sangat sayang terhadap boneka yang dianggap sebagai sang istri
Mengenai kisah kakek Zhang ini, bagaimana nih tanggapan kamu Sobat. Semoga saja, ia segera menyadari bahwa sang istri benar-benar telah tiada. Dan semoga pula, ia bisa ikhlas bahwa sang istri tak lagi bersamanya. Semoga, ia juga segera menyadari bahwa boneka yang telah menemaninya selama ini hanyalah sebuah boneka dan tak ada arwah sang istri di dalamnya. Salam kebajikan (Sumber)

Legenda Anak Bakti yang Menjadi Dewa


KEBAJIKAN ( De 德 ) Menurut legenda, Ketika Dinasti Ming (AD 1573-1620), dibawa kaki gunung Jiuhua ada seorang petani muda yang bernama Ning Cheng tinggal disana, dia dari kecil sudah kehilangan ayahnya, dia tinggal bersama kakak dan adiknya serta seorang ibu yang buta. Meskipun hidupnya sangat sulit, tapi dia selalu menghormati dan menyayangi ibunya.

Pada suatu musim panas, matahari sangat terik, Ning Cheng sedang menyiangi rumput di sawah, dia sangat kehausan. Ada seorang pria tua berambut putih yang lewat memberinya setengah buah peach, setelah memakannya dari hatinya dia merasa sangat segar.

Dia melihat kakek tersebut sudah sangat tua, kesulitan berjalan, dia mengambil inisiatif untuk mengantar kakek tersebut pulang ke rumahnya. Setelah mereka sampai di sebuah dinding batu, kakek tersebut mengetuk dinding batu, dinding batu terbuka, didalam ada sebuah gua yang penuh perhiasan dan permata. Kakek tersebut menyarankan dia untuk tinggal disana membantunya menanam pohon persik. Tetapi Ning Cheng teringat di rumahnya ada ibunya yang buta serta saudaranya yang membutuhkannya, sehingga dia mengatakan kepada kakek tersebut, “Saya masih punya ibu di rumah yang membutuhkan saya.”

Kakek tersebut terharu atas sifat berbakti dari Ning Cheng, akhirnya dengan sebuah hembusan angin mengirim Ning Cheng pulang kembali ke ibunya, pada saat ini Ning Cheng baru sadar bahwa dirinya telah bertemu dengan Dewa. Akhirnya menurut legenda setelah Ning Cheng dengan sepenuh hati berbakti dan merawat ibunya sampai akhir hidupnya, lalu dia mengikuti dewa berkultivasi menjadi Dewa.

Secara historis, para Dewa menginginkan orang yang baik hati, cerita ini adalah sebagai contoh. Tapi orang zaman sekarang waktu beribadah, yang dipikirkan adalah tentang bagaimana bisa kaya, makmur seluruh pikiran adalah hal-hal duniawi, tidak tahu harus bertobat, meningkatkan standar moral mereka. Ini benar-benar menyedihkan. Salam kebajikan (Sumber)

Dalam Hidup Kita Membutuhkan Sahabat


KEBAJIKAN ( De 德 ) Sahabat yang baik dapat saling pengertian, saling memahami, saling membantu, kedamaian dan kebahagiaan tidak jauh dari kita.

Sahabat dalam hidup ini mampu membuat kita bahagia atau terluka. Semua tergantung bagaimana kita menanggapi dan menghadapinya. Orang bijak sekalipun masih membutuhkan sahabat serta belajar agar ia menjadi lebih bijaksana dalam menjalani hidup.

Saat kita bersedih dan menangis maka disanalah kita butuh sahabat yang dapat meminjamkan bahunya dan membiarkan kita bersandar. Juga sambil mendengar keluhan kita tanpa meneruskan ke orang lain dan akan mencoba bersama mencari cara menyelesaikan masalah.

Sahabat tidak akan meninggalkan kita dalam kondisi apapun, akan selalu memegang erat tangan kita, tidak membiarkan kita terpuruk sendirian. Bersyukurlah orang yang memiliki sahabat baik. Hargai segala yang diberi sahabat baik walau kadangkala tidak berujud, karena sahabat baik akan memberikan yang terindah yang dimilikinya untuk kita.

Hidup di dunia ini kita bukan hidup sendiri, kita butuh sahabat yang mendukung dan menyayangi kita terutama keluarga kita. Kalau kita hidup tidak butuh orang menemani atau menyayangi, sama dengan hidup di dalam hutan tanpa siapapun.

Kehidupan yang bahagia, tidak terletak pada materi, kekuasaan, ketenaran, keuntungan dan kedudukan, tetapi terletak pada perhatian dan tali persahabatan antar sesama. (美滿的人生,不在於 物質、權勢、名利及地位,而是人與人之間的關懷與情誼)。A fulfilling life is not one that dwells in worldly prestige and power, but one with true friendship, sharing and caring for one another.- Kata Perenungan Master Cheng Yen -  Salam kebajikan (Ai Ti)

Jangan Terlalu Berhitungan


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Terhadap orang lain harus tulus, baik, sopan, ada cinta kasih, orang lain bersahabat dengan kita tentu akan merasa kehangatan, yakin, begitu akan bisa lama.

Dalam hidup selalu ada hal-hal yang menyakitkan, juga orang yang menyakiti kita, tapi nasib memang ditakdirkan dia bukan sahabat kita. Akan begitu indah kalau kita memaafkan dia dan menenangkan diri kita, untuk lain kali tidak harus banyak berhubungan dengannya.

Kebersamaan walaupun berapa lama tentu ada cinta kasih yang terdalam. Selain itu kehidupan akan menarik, bahwa dedikasi jiwa dan kasih sayang untuk menghabiskan waktu bersama untuk harapan yang lebih indah. Beberapa orang dilahirkan untuk mencintai kita dan bersahabat dengan kita.

Bersedia baik dengan seseorang atau orang lain tidak pernah ada alasan. Putus hubungan satu sama lain, tentu ada alasan kuat karena tidak ada kecocokan untuk bisa bersama. Marah pada seseorang, rasa sebal dan karakter yang sudah tidak menyenangkan dan tidak ingin saling terkait, semua adalah bentuk telah dekat dengan perpisahan, ini semua sudah tiada sukacita.

Kehidupan adalah sesuatu yang tidak kekal, tidak ada kelahiran maka tidak ada penderitaan dan kematian. Jangan terlalu hitungan dengan siapa saja maka hubungan dengan siapa saja akan langgeng selamanya dan ruang lingkup kita pun akan tiada batas.

Terhadap orang lain, kita harus berlagak bodoh, dengan demikian baru bisa tidak saling berhitungan dengan orang dan mendapatkan kegembiraan. Terhadap diri sendiri, hendaknya harus berlaku cermat dalam segala hal, dengan demikian baru bisa memanfaatkan waktu untuk lebih giat membina diri. (對別人要傻,才能免除計較,獲得快樂; 對自己要精,才能把握時間,努力修行). Act naive towards others to avoid disputes and be happy, but be sensitive towards own self and grasp every opportunity to practise spiritual cultivation. - Kata Perenungan Master Cheng Yen -  Salam kebajikan (Ai Ti)

Untaian Rantai Kasih


KEBAJIKAN ( De 德 ) Seorang pria berwajah memelas sedang berjalan menyusuri pinggiran jalan sambil menyepak-nyepakkan batu kerikil di hadapannya. Zuki, seorang suami yang bertanggung jawab sedang mengalami kesulitan hidup. Hatinya diliputi gundah gulana.

Di kejauhan, Zuki melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri di samping mobilnya. Kepalanya celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang. Beberapa kali lambaian tangannya untuk memberhentikan mobil yang sedang melaju, tidak mendapat tanggapan dari para pengemudi mobil.

Angin bertiup kencang dan petir menyambar-nyambar menandakan hujan bakal turun dengan derasnya. Zuki dapat merasakan bahwa wanita tua itu sedang membutuhkan bantuan orang lain. Dengan langkah cepat dan sedikit berlari-lari, Zuki segera menghampiri wanita itu.

Zuki melemparkan senyumnya, namun wanita yang sudah beruban itu terlihat ketakutan. Mungkin karena melihat wajah Zuki yang berjanggut, berkumis tebal dan ada goresan bekas luka di lengannya.

Dalam hatinya, wanita yang berasal dari keluarga kaya itu merasa, Zuki bukanlah orang baik-baik. Barangkali seorang residivis yang baru keluar dari penjara. Berniat akan merampok dan menganiaya dirinya, menguasai hartanya dan meninggalkan dirinya seorang diri di tepi jalan yang sepi.

Zuki dapat merasakan kegelisahan hati wanita itu...

Zuki berkata lembut : "Nyonya jangan takut. Saya tidak berniat jahat kepada anda. Saya bergegas ke sini untuk membantu anda. Apa yang dapat saya bantu...?"

Wanita tua mulai melunak. Wajahnya tidak lagi tegang dan ketakutan. Dengan menebar senyum terpaksa, sang nyonya menunjuk ke arah bawah, tepatnya ke arah ban mobilnya yang sudah kempes.

Zuki : "Oh... Saya mengerti... Dapatkah nyonya mengeluarkan perkakas alat bengkel. Biarkan saya yang mengganti ban mobil ini...."

Sang nyonya segera mengeluarkan satu tas berisi perkakas untuk mengganti ban. Tangannya sedikit gemetaran, terkena angin yang bertiup kencang.

Zuki berkata : "Silakan nyonya menunggu di dalam mobil. Angin kencang ini tidak baik buat kesehatan nyonya..."

Bagi Zuki, masalah kempes ban merupakan masalah kecil, namun tidak demikian bagi seorang wanita. Tenaga mereka tidak cukup kuat untuk memutar baut yang terpasang sangat kuat di bagian roda mobil.

Zuki merangkak ke bawah mobil, mencari tumpuan tanah keras untuk memasang dongkrak. Baju yang basah karena keringat seketika menjadi kotor ketika dia berbaring di atas tanah. Saat mendongkrak, beberapa kali jari-jari tangannya membentur tanah dan tergores oleh batu sehingga menimbulkan luka lecet yang lumayan dalam.

Untunglah berkat kepiawaiannya dalam menguasai seni perbengkelan yang disediakan perusahaan, akhirnya Zuki berhasil menyelesaikan tugas mengganti ban dalam waktu singkat.

Saat Zuki sudah melepaskan dongkrak dan mulai mengencangkan baut-baut roda, sang nyonya menurunkan kaca mobil depan.

Sang nyonya : "Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas bantuan ini. Jika bapak tadi mengabaikan diriku, saya tidak dapat membayangkan hal buruk apa yang bakal menimpaku..."

Zuki mendongakkan kepalanya lalu tersenyum. Sebagian besar wajahnya penuh dengan kotoran hitam bekas tanah. Setelah memasukkan ban yang kempes ke dalam bagasi mobil, Zuki mengambil sebuah botol minum dari tas ranselnya. Membasuh muka, badan dan anggota tubuhnya yang belepotan terkena kotoran. Setelah merasa cukup bersih, akhirnya Zuki memohon izin untuk melanjutkan perjalanannya.

Sang nyonya : "Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Anda. Mohon ambil amplop ini..."

Sang nyonya menyerahkan sebuah amplop yang berisi uang, namun ditolak dengan halus oleh Zuki.

Zuki : "Maaf nyonya... Saya membantu dengan ikhlas. Saya tidak pernah mengharapkan imbalan saat menolong orang lain...."

Sang nyonya : "Ini hanya sekadar ucapan terima kasih... Tidak ada maksud apa-apa..."

Zuki : "Sekali lagi maaf nyonya... Saya tidak dapat menerima imbalan ini. Pertolonganku menjadi tidak bermakna lagi jika saya menukarnya dengan imbalan uang. Seandainya nyonya ingin membalas kebaikan saya, berilah bantuan kepada mereka yang sedang memerlukan bantuan..."

Zuki tidak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Dia menolong orang lain dengan tulus dan tanpa pamrih. Walaupun sedang dalam kesulitan keuangan, tidak pernah terbersit dalam pikirannya ingin membarter bantuannya dengan imbalan uang.

Zuki menambahkan, "Saya memohon, janganlah kebaikan ini terputus sampai di tangan nyonya. Buatlah menjadi seuntai rantai kasih yang indah dan tiada berputus. Ingatlah pesan saya...."

Zuki menunggu hingga sang nyonya menyalakan mobilnya dan berlalu dari pandangannya. Hari ini dingin sekali dan pikirannya sedang kalut karena memikirkan masalah keluarganya, namun hati Zuki merasa nyaman setelah menolong wanita tua yang belum dikenal sebelumnya. Zuki ingin segera pulang ke rumah dengan mempercepat langkah.

Di dalam mobil, sang nyonya merenungkan apa yang barusan dialaminya. Seorang pemuda yang berpenampilan kumal dan sedikit menakutkan ternyata adalah pahlawan bagi dirinya. Bukan itu saja, inilah pertama kalinya ada orang yang menolak pemberian uangnya.

Setelah mengendarai mobil, beberapa kilometer ke depan, sang nyonya merasa kelaparan. Beliau berusaha mencari warung makan atau kafe untuk melepas lelah dan menuntaskan rasa lapar di perut. Gerimis mulai turun membasahi bumi.

Sang nyonya melihat sebuah warung kecil yang sangat sederhana. Beratapkan rumbia dan berdindingkan bambu. Walaupun terlihat sederhana, namun lantainya bersih dan mejanya tiada berdebu. Terlihat sekali bahwa sang pemilik sangat peduli dengan kebersihan warungnya.

Saat memasuki warung tersebut, seorang wanita muda menyambutnya dengan hangat, membawakan sehelai handuk bersih untuk mengeringkan rambut sang nyonya yang basah kuyup terkena air hujan.

Wanita muda itu memperlakukan sang nyonya dengan sangat baik. Walaupun terlihat kelelahan, namun wanita muda itu tetap menebar senyum manisnya.

Sang nyonya melihat, wanita pemilik warung itu sedang hamil besar. Berat badan yang berlebihan karena harus menggendong buah hatinya di dalam perut, wanita itu tidak terlihat kesulitan dalam beraktivitas.

Sang nyonya : "Kamu sedang hamil besar, mengapa tidak pergi beristirahat...?"

Pemilik warung : "Walaupun sedikit lelah, namun saya ingin membantu suami saya mencari nafkah. Saya merasa sedih jika suamiku pulang dengan tangan hampa...."

Sang nyonya terdiam mendengar jawaban yang polos itu. Pikirannya terbang sejenak ke belakang, mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Bayangan seorang pria yang baik hati dan seorang wanita yang ikhlas bekerja membantu perekonomian keluarga.

Setelah nyonya kaya itu melahap makanannya hingga tiada bersisa, lantas beliau meletakkan bungkusan amplop yang tadinya hendak diberikan kepada Zuki. Hal ini dilakukan diam-diam di saat pemilik warung pergi ke belakang.

Pemilik warung yang sebentar lagi akan melahirkan puteri pertamanya, kelihatan bingung melihat tamunya sudah pulang.

Di atas meja, di samping piring, dia melihat sebuah kertas yang bertuliskan : "Mohon maaf karena saya harus meninggalkan warung ini dengan tergesa-gesa. Saya sangat senang dengan perlakuan istimewa dari anda. Hari ini saya telah berjumpa dengan dua orang yang sangat baik. Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya, namun saya meletakkan amplop ini untuk kamu gunakan sebagai biaya persalinan. Barusan saya juga ditolong oleh seseorang. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, tetaplah berlaku baik kepada orang lain. Berilah bantuan kepada siapapun yang memerlukannya. Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti di tanganmu."

Di bawah handuk, terdapat sebuah ampolop tebal, berisikan tiga puluh lembar uang seratus ribuan. Wanita pemilik warung terperangah melihat begitu banyak uang yang diberikan tamu yang tidak dikenalnya. Setetes air mata haru mengalir dari pelupuk matanya.

Saat malam, sang suami pulang ke rumah dengan wajah lesu dan pakaian basah karena kehujanan. Wanita muda ini menyambut kepulangan sang suami dengan penuh sukacita.

Sang isteri : "Suamiku... Sebuah mujizat telah hadir dalam kehidupan kita. Saya yakin permohonan kamu untuk meminjam uang di perusahaanmu pasti ditolak. Saya dapat melihat dari raut wajahmu yang sedih. Baru saja seseorang yang tidak saya kenal, meletakkan amplop berisi uang tiga juta rupiah, nilai yang sama persis dengan yang hendak kamu pinjam..."

Sang suami : "Benarkah isteriku...? Saya merasa senang sekali, akhirnya Tuhan mengabulkan permintaanku... Sepanjang jalan pulang, saya terus menerus memohon keajaiban agar kamu dapat menjalani proses persalinan dengan baik... Namun, siapakah dia...?"

Sang isteri : "Seorang wanita tua, berambut uban dan mengendarai mobil sendirian. Beliau tidak banyak bicara, namun saya tahu dia adalah seorang yang baik..."

Sang suami : "Apakah mobilnya berwarna hitam dan ada tulisan ANGEL di pintu depannya...?"

Sang isteri : "Benar sekali... Warna mobilnya hitam... Apakah bang Zuki mengenalnya...?"

Sang suami menggelengkan kepalanya. Hanya di dalam hatinya, terucap kalimat : "Saya sungguh tidak menyangka, perbuatan baikku, begitu cepat menghasilkan buah yang ranum dan manis.... Terima kasih Tuhan..."

Sobatku yang budiman...

Orang baik itu seperti bintang di langit. Kita tidak selalu dapat melihatnya, namun kita tahu mereka selalu ada bersama kita dan setiap saat dapat memberikan bantuan kepada siapapun yang membutuhkan.

Kebaikan yang kita terima itu bagaikan sebuah rantai kasih yang akan terus bergulir, jika kita meneruskan berbuat kebaikan kepada orang lain. Dan tidak membiarkannya berhenti sampai di tangan kita.

Orang kaya itu bukanlah orang yang memiliki harta melimpah, namun orang yang benar-benar kaya adalah orang yang gemar memberi bantuan kepada orang lain. Jangan berpikir tentang benda apa atau nominal uang yang akan diberikan, namun bentuk perhatian sederhana dan sebuah senyuman akan berarti bagi mereka yang sedang kesusahan.

Ketika seseorang melakukan kebaikan dengan tulus dan tanpa pamrih, maka Tuhan akan memberinya jalan kemudahan dan sebuah pohon kehidupan. Kapan dan dimana buah akan dipanen, tidak ada seorangpun yang tahu. .

Hidup tidak akan pernah sulit apabila kita mau saling berbagi. Lanjutkan rantai kasih ini, dan jangan berpikir tentang imbalan yang akan kita terima. Sebab Tuhan tahu siapa yang pantas menerima berkah karunia dan anugerah-Nya. Salam kebajikan #firmanbossini

Menemukan Orang Baik

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Selasa, 23 Agustus 2016 | 15.11


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Alkisah ada seorang Guru Spiritual yang bijaksana bernama Opung Toba. Beliau sedang duduk bersantai di dekat gapura pintu masuk ke dalam kota.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah seorang pemuda bernama Samosir, mengajaknya bermain catur. Walaupun tidak pernah sekalipun memenangkan pertandingan catur melawan Opung Toba namun Samosir tidak pernah menyerah. Opung Toba tidak pernah menolak ajakan tanding catur dari Samosir. Beliau sangat mengagumi semangat pantang menyerah pemuda yang sudah ditinggal ibundanya sejak masih kecil.

Saat sedang menikmati permainan catur, muncullah seorang pemuda bertampang angkuh dengan mengendarai kuda menghampiri Opung Toba.

Pemuda A : "Apakah anda adalah Opung Toba?"

Opung Toba tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Janggut putih yang menjulang ke bawah ikut bergoyang mengikuti gerakan kepalanya.

Pemuda A : "Guru yang bijaksana, bolehkah saya bertanya sesuatu kepadamu?"

Opung Toba : "Apakah yang sedang mencemaskan hatimu wahai pemuda...?"

Pemuda A : "Saya telah meninggalkan kampung halamanku karena...,"

Belum sempat pemuda tersebut menyelesaikan kalimatnya, Samosir menyelutuk : "Mengapa kamu meninggalkan kampung halamanmu? Apakah di sana tidak ada pekerjaan lagi untukmu? Atau barangkali kamu hendak melarikan diri dari tanggung jawab setelah melukai hati wanita...?"

Opung Toba : "Hushhh... Kamu tidak boleh berpikiran negatif seperti itu... Cobalah lanjutkan kalimatmu yang tadi terpotong wahai pemuda..."

Pemuda A : "Saya ingin mencari kebahagiaan dan kedamaian di tempat baru. Sebab saya tidak menyukai orang-orang yang ada di kampung halamanku..."

Opung Toba mengelus janggut putihnya dan mulai mengernyitkan dahinya seperti memikirkan sesuatu hal.

Pemuda A itu melanjutkan bertanya : "Guru, saya hendak pindah ke kota ini. Bagaimanakah karakter dan tabiat orang-orang di sini...?"

Opung Toba balik bertanya : "Bagaimana karakter dan tabiat orang-orang yang baru saja engkau tinggalkan...?"

Pemuda A menjawab : "Orangnya tidak asyik dan tidak pintar bergaul. Sungguh tidak menyenangkan dan menyebalkan sekali. Semuanya egois dan mau menang menang sendiri. Pokoknya tidak ada orang baik di kampungku..."

Opung Toba : "Dengan sangat menyesal saya memberitahukan kepada dirimu bahwa karakter orang-orang di kota ini semuanya persis seperti orang-orang yang engkau sebutkan tadi..."

Pemuda A : "Sudah kuduga... Untunglah saya tidak jadi masuk dan terburu-buru tinggal di kota ini. Terima kasih Guru...."

Pemuda A segera berlalu dari hadapan Opung Toba dan Samosir, melanjutkan perjalanannya mencari kebahagiaan hidup dan berusaha menemukan tempat bermukim orang-orang yang memiliki karakter yang sesuai dengan kemauannya.

Tidak berselang lama, datanglah Pemuda B berjalan kaki menjumpai mereka yang masih asyik bermain catur. Dengan menyandang tas butut, pemuda B melangkah perlahan ke arah Opung Toba.

Pemuda B : "Benarkah Guru adalah Opung Toba yang sangat terkenal kearifannya?"

Opung Toba tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Beliau membetulkan jubahnya yang sedikit tersingkap karena hembusan angin.

Pemuda B : "Saya baru saja meninggalkan kota kelahiranku karena ingin berdagang di tempat lainnya. Saya tidak ingin menjadi pesaing bagi mereka yang sudah berdagang di kotaku. Saya hendak tinggal dan menetap di kota ini. Bagaimanakah karakter penduduk di kota ini, Guru...?"

Tanpa menjawab pertanyaan, Opung Toba malah balik bertanya kepada pemuda B : "Bagaimana karakter orang-orang yang baru saja engkau tinggalkan...?"

Pemuda B menjawab dengan menunjukkan wajah berseri-seri : "Saya senang sekali tinggal dan menetap di kotaku. Semua orang yang di sana baik-baik, ramah, penuh pengertian dan saling membantu. Kami menjunjung tinggi sikap toleransi dan setia kawan. Sebenarnya saya merasa amat berat meninggalkan mereka, namun saya takut jika berbisnis di sana, akan mengganggu pedagang yang terlebih dahulu berjualan di sana..."

Opung Toba : "Wah... Wah... Kebetulan sekali... Di kota inipun banyak orang memiliki karakter dan sikap yang seperti kamu sebutkan tadi. Silakan tinggal dan menetap di kota ini. Berdagang dan berbisnislah dengan baik dan jujur, wahai pemuda yang baik hati..."

Mendengar jawaban dan penjelasan Opung Toba, Samosir merasa keheranan. Dia bingung dengan sikap Opung Toba yang dirasanya plin plan. Dia menganggap Opung Toba adalah seorang yang pemilih, hanya menginginkan orang baik masuk dan menjadi penghuni kota ini.

Sepeninggal pemuda B, Samosir bertanya kepada Opung Toba : "Maaf Guru... Saya heran dengan sikap Guru. Mengapa untuk pertanyaan yang sama dari dua orang yang berbeda, Guru justru memberikan jawaban dan solusi yang berbeda?"

Opung Toba tertawa terbahak-bahak... Kemudian beliau menerangkan maksudnya : "Tidak ada manusia yang memiliki karakter yang persis sama. Pada dasarnya sifat dan tabiat manusia itu berbeda-beda. Jika seorang manusia selalu membawa pemikiran yang tidak baik, maka sepanjang hidupnya pemikiran yang tidak baik itu akan mengikutinya kemanapun dia pergi. Jika dia tidak mau mengubah perangainya, maka dimanapun dia berada, tidak akan ada yang mau mendekatinya. Kebahagiaan selalu menjauh dari hidupnya...."

Samosir masih penasaran dan bertanya : "Mengapa Guru tidak menasehati pemuda A untuk mengubah sikap buruknya..?"

Opung Toba : "Saya tidak yakin akan berhasil menasehatinya. Biarlah dia terus mencari orang-orang baik, mencari kebahagiaan versi pikirannya. Yakinlah, dia akan gagal. Setiap kegagalan akan membuat dirinya menjadi lebih baik dan dengan sendirinya akan mengubah pola pikirnya yang kurang baik itu..."

Samosir : "Bagaimana jika dia tidak mau berubah...?"

Opung Toba : "Percayalah, setelah semua yang diinginkan tidak tercapai, maka dia akan kembali kepadaku. Di situlah saya akan memberikan wejangan dan nasehat hidup. Saat dia masih merasa hebat dan angkuh, tidak ada gunanya bagiku memberikan nasehat. Kita bagaikan menabur garam di lautan. Nah, ketika dia mulai merasa jenuh, tertekan dan seperti kehilangan pegangan, maka nasehat dari orang-orang yang dipercayainya akan lebih mudah dicernanya..."

Samosir : "Saya sudah mengerti Guru. Maafkan tadi saya sempat menilai Guru bukanlah seorang yang bijaksana..."

Opung Toba : "Ayo, lanjutkan langkahmu... Tiga langkah ke depan, rajamu bakal keok..."

Sobatku yang budiman...

Sangat sukar bagi kita untuk mengubah tabiat dan karakter orang lain, apalagi mereka yang tidak dikenal. Akan jauh lebih mudah, jika kita sendiri yang mengatur hati dan pikiran serta mengubah sikap dalam pergaulan agar dapat diterima dengan baik oleh orang-orang yang berada di lingkungan sekitar kita.

Jangan terlalu berharap dan menginginkan semua orang yang dijumpai adalah orang baik, sebab di antara orang-orang baik, selalu terselip orang-orang yang tidak baik. Inilah pelajaran hidup yang amat berguna bagi kita untuk belajar, meneladani perilaku terpuji dan menjauhi perbuatan yang tercela.  Salam kebajikan #‎firmanbossini‬

Dewa - Dewi

Legenda Tiongkok

PEPATAH TIONGKOK

KESETIAAN / ZHONG

TAHU MALU / CHI

KESEDERHANAAN / LIAN

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2016. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger