|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1438H, Mohon Maaf Lahir & Bathin....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Latest Post

Pisang Busuk

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Selasa, 20 Juni 2017 | 20.15


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Seorang Guru Spiritual yang terkenal bijaksana akan mengadakan kegiatan pelatihan spiritual selama seminggu untuk menggembleng jiwa-jiwa yang tertekan menjadi pribadi yang berbahagia.

Banyak orang berniat mengikuti acara ini. Mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri, mengikuti "acara pengasingan" di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, di perkampungan dekat kaki gunung.

Selama seminggu, para peserta akan mendapat siraman rohani dan pembekalan budi pekerti layaknya jaman sekolah dulu, dengan berbagai aktivitas tambahan yang menarik dan tidak membosankan.

Beberapa kali, acara kegiatan yang pernah diadakan Sang Guru dengan tema berbeda, mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Buktinya saja, untuk acara kali ini yang bertemakan : "Hidup Damai Tanpa Membenci" diikuti oleh 60 orang peserta, dan jumlahnya memang sengaja dibatasi.

Dari semua aktivitas yang diadakan, ada "menu utama" yang wajib dilakoni oleh semua orang yaitu yang berkaitan dengan pisang.

Sang Guru menyediakan beberapa karung pisang yang sudah matang. Lantas menyuruh masing-masing peserta mengambil satu kantong plastik transparan yang tersedia.

Di hari pertama, Sang Guru menginstruksikan para peserta untuk menuliskan nama-nama orang yang mereka benci di kulit pisang tersebut. Jumlahnya tidak terbatas.

Ada peserta yang menuliskan sepuluh nama, ada yang menuliskan tujuh nama, ada yang menuliskan empat nama saja dan ada juga peserta yang hanya menuliskan satu nama..

Semua pisang yang sudah bertuliskan nama-nama orang dimasukkan ke dalam plastik transparan dan harus dibawa kemanapun mereka pergi, bahkan hingga ke dalam toilet. Pada waktu tidur, kantong plastik tersebut juga harus digantung di pergelangan tangan peserta.

Keesokan harinya, Sang Guru, mengulangi instruksinya untuk menuliskan nama-nama baru, orang yang dibenci oleh masing-masing peserta, yang belum sempat ditulis di hari pertama.

Ternyata, masih ada juga peserta yang menuliskan nama-nama baru dari orang yang dibencinya, namun jumlahnya sudah tidak banyak lagi.

Dengan adanya penambahan nama baru, secara otomatis, jumlah pisang yang harus dibawa juga semakin banyak. Beban semakin bertambah berat.

Pada hari ketiga, tidak ada lagi peserta yang menuliskan nama-nama baru. Kemungkinan mereka mulai menyadari, bahwa jika semakin banyak yang ditulis, akan semakin berat beban yang harus dipikulnya.

Pada hari kelima, pisang-pisang mulai menebarkan aroma tidak sedap. Sebagian peserta mulai tidak tahan dan berniat untuk membuang pisang-pisang yang sudah membusuk.

Namun hal ini dicegah oleh Sang Guru. Beliau menegaskan bahwa sesuai komitmen, mereka baru boleh melepaskan semua beban berat dan bau busuk menyengat pada hari ketujuh, yaitu di hari terakhir kegiatan ini.

Setelah satu minggu, para pesera sudah diperbolehkan melepaskan dan membuang plastik yang berisi pisang busuk ke dalam tempat sampah.

Semua peserta merasa lega karena penderitaan mereka telah berakhir. Sekarang mereka merasa memiliki kebebasan kembali seperti semula.

Sang Guru mengumpulkan semua peserta dan bertanya : “Bagaimana rasanya membawa sekantong pisang kecil yang ringan selama seminggu...? Bagaimana perasaan kalian selama ini, menderita atau bahagia...?”

Serentak semua peserta menjawab : "Menderitaaaa...."

Sang Guru : "Apakah saat ini kalian sudah merasa lega dan bahagia...?"

Peserta : "Iyaaaa...."

Sang Guru berkata : “Seperti itulah rasa kebencian yang selalu kita tenteng setiap waktu, apabila kita tidak dapat memaafkan orang lain. Semakin banyak kita membenci dan memusuhi orang, maka semakin berat beban yang harus kita pikul..."

Semua peserta mendengarkan dengan seksama wejangan yang amat berharga ini. Melalui kegiatan ini, setidaknya, amat bermanfaar saat mereka berniat untuk menebar kebencian kepada orang lain, mereka akan merasa seperti membawa seplastik pisang busuk.

Sang Guru melanjutkan : "Bukan itu saja, semakin lama kita simpan, maka aromanya menjadi busuk, sama seperti saat kita membawa seplastik pisang busuk. Baru satu minggu saja, kalian sudah mengeluh dan tidak tahan. Bayangkan jika kita membawa benih-benih kebencian seumur hidup kita, pastinya amat tidak menyenangkan dan sungguh menyiksa batin hingga timbul rasa tidak bahagia sepanjang hidup kita...."

Semua peserta mengangguk tanda setuju dengan apa yang disampaikan oleh Sang Guru yang begitu bijaksana.

Sobatku yang budiman :

Jika kita masih memiliki dan menyimpan rasa benci dan masih memusuhi orang lain, segeralah buang jauh-jauh dari dalam hati. Sebab, beban hidup sehari-hari yang sudah cukup berat, tentunya akan bertambah semakin berat oleh setumpuk rasa benci.

Bersabar dan ikhlaskan atas semua kesalahan yang pernah diperbuat mereka kepada diri kita. Cari tahu duduk permasalahan dan selesaikan dengan kepala dingin.

Jika masih mengalami kebuntuan, cobalah untuk menenangkan diri dan berupaya memotivasi diri bahwa kebencian itu tetap akan melekat dan menjadi beban hidup jika kita masih memendamnya.

Bahkan, bukan tidak mungkin, kita akan ikut menjdi "busuk". Hidup tidak akan bahagia dan selamanya menderita jika beban itu masih kita bawa kemanapun kita pergi.

Pikirkan juga, barangkali juga orang yang masih kita benci, sudah hidup bahagia dalam dunia mereka yang baru. Jadi, buat apa lagi kita masih memegang erat-erat kebencian itu? Salam kebajikan #firmanbossini

Membiasakan yang Benar


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Seorang anak sedang berdebat dengan ibunya.

Ibu : "Jangan menonton film atau main game sebelum kamu belajar. Pikiran kamu tidak akan konsen ke pelajaran. Hanya mikirin film yang baru kamu tonton atau game yang baru kamu mainkan..."

Sang anak menyanggah : "Selama ini saya tidak pernah ketinggalan pelajaran. Selalu naik kelas dengan nilai yang tidak jelek..."

Ibu : "Itulah masalahnya. Ibu tahu kamu itu anak yang pintar, namun seluruh pikiran kamu tidak tercurah sepenuhnya ke pelajaran. Alhasil kamu tidak pernah masuk sepuluh besar. Jauh dari rangking satu..."

Anak : "Saya sudah terbiasa seperti ini. Tolong jangan mengubah kebiasaanku..."

Ibu : "Kamu selalu membenarkan kebiasaan yang tidak benar. Selalu menolak untuk membiasakan diri melakukan sesuatu yang benar. Kamu tidak akan pernah sukses jika selalu berpikiran demikian. Tidak senang jika ditegur dan menganggap dirimu selalu benar..."

Sementara itu terjadi percakapan antara suami isteri saat hendak pergi ke pesta.

Suami : "Isteriku, udah siap belum? Jangan lupa lo, kita harus menjemput Pak Andre. Semalam dia sudah confirm..."

Isteri : "Sabar sebentar yah... Saya sudah mau siap, tinggal mengoleskan lipstik saja..."

Suami : "Iya, agak cepatan... Kita sudah telat lima belas menit. Kasian Pak Andre menunggu terlalu lama..."

Isteri : "Biarin aja mas... Kan sudah biasa kalo teman-teman yang menunggu kita. Yang tidak biasa itu kalo kita yang menunggu mereka..."

Suami : "Pikiran kamu itu salah, sayangku. Justru karena sering terlambat, makanya orang menjuluki kita sebagai jam karet. Istilahnya orang yang tidak tepat waktu, alias tidak disiplin. Bukankah lebih enak jika kita dianggap sebagai orang yang punya komitmen dengan waktu? Lebih baik menunggu daripada ditunggu..."

Isteri : "Loh kok sekarang mas ingin mengubah kebiasaan kita?"

Suami : "Jika ada kebiasaan yang tidak benar, haruslah kita koreksi. Jangan membenarkan kebiasaan yang salah..."

Sobatku yang budiman...

Dua peristiwa di atas sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang memiliki perilaku yang tidak benar, namun berulang-ulang dilakukan sehingga menjadi kebiasaan. Lantas menjustifikasi kebiasaan yang salah itu menjadi sebuah kebenaran.

Prinsipnya tidak berbeda jauh dengan saat kita menerima sebuah berita hoax atau tidak benar. Jika kita terus menerus disuguhi berita hoax setiap hari dan dari berbagai sumber, maka lama kelamaan berita hoax itu akan dianggap menjadi sebuah kebenaran. Inilah yang sering dilakukan oleh para penyebar berita hoax. Selalu mengupload berita hoax secara simultan dan kontinu, dengan tujuan dapat memaksa pikiran pembacanya mempercayai berita hoax yang dibuatnya.

Saat kita dihadapkan dengan seseorang yang mengkoreksi kekhilafan kita, silakan cermati dan renungi manfaat dan kebenarannya. Jangan memposisikab diri sebagai manusia berkepala batu, keras kepala dan tidak boleh ditegur.

Jika kita tetap bersikeras dengan kebiasaan yang tidak benar, maka suatu saat kita akan sulit untuk mengubah kebiasaan tersebut. Yang rugi bukan orang lain, melainkan kita sendiri. Salam kebajikan #firmanbossini

Agama dan Media Provokatif


KEBAJIKAN ( De 德 ) Abaikan saja media provokatif serta link-link hoax, fitnah dan mengganggu kebhinnekaan, dengan menggunakan jargon agama. Sebab mereka hanya pintar membuat perpecahan dan berusaha memancing emosi para pengikutnya yang sebagian tidak mengerti apa-apa. Para pengikutnya ikut berpartisipasi mengompori dan memperkeruh suasana hanya karena unsur kekinian belaka.

Media dan link provokatif berlabel agama ini hanya ingin mengadu domba, menciptakan kerusuhan dan pasti akan menjala ikan di saat air sedang keruh. Ada motif politik dan yang paling utama tentunya karena motif ekonomi. Ada yang benar-benar merasa terganggu oleh ulah orang lain, namun sebagian besar karena disuruh oleh boss besar dengan imbalan dana yang tidak sedikit.

Masalah ini terjadi di semua agama yang ada di muka bumi. Antara agama mayoritas dan agama minoritas. Agama resmi atau agama sempalan. Semuanya akan beradu kuat untuk menjadi pemimpin politik. Setelah menjadi pemimpin, mereka dengan mudahnya mencuci tangan dan mulai berpikir untuk memanfaatkan jabatannya sebagai sumber penghasilan tidak terbatas. Melupakan janji-janji manis yang dilontarkan.

Mari langkahi dan jauhi media tersebut. Mereka termasuk kelompok yang mengharapkan keuntungan dari situasi chaos. Jika tidak dibayar saat ini, mungkin akan dibayar kemudian saat boss besarnya menjadi pejabat utama di suatu negeri.

Sobatku yang budiman...

Sesungguhnya agama itu diturunkan Tuhan untuk menuntun umatnya ke jalan kebenaran. Agama diciptakan bukan untuk mengkotak-kotakkan, menciptakan permusuhan atau peperangan dan menghasut umatnya untuk memusuhi umat yang lain.

Agamamu adalah agamamu. Agamaku adalah agamaku. Kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan di alam duniawi kepada Tuhan melalui agama yang kita yakini.

Sekali lagi, abaikanlah media atau website dan link provokatif berlabel agama karena mereka dibuat untuk memecah belah dan membuat kekacauan.

Agama itu hadir untuk menyejukkan dan mendamaikan, bukan hadir untuk menciptakan keributan dan permusuhan.  Salam kebajikan #firmanbossini

Mengapa Tidak Mencelakai Diriku


KEBAJIKAN ( De 德 )Seorang wanita muda dari Indonesia bernama Epel sedang bertamasya seorang diri ke Australia. Epel begitu menikmati setiap rute perjalanan, menginap dari satu penginapan ke penginapan lain sekadar untuk berganti suasana.

Suatu malam, saat waktu menunjukkan pukul sembilan, setelah menikmati panorama pantai yang berhiaskan rembulan, Epel berjalan menuju ke hotel kecil tempatnya menginap.

Saat itu, wanita muda yang berparas manis dan berdagu indah itu, mengambil jalan pintas, rute yang lebih pendek, menuju hotel penginapannya. Jalan kecil ini baru diketahuinya tadi siang, saat diberitahu oleh pemilik rumah makan tempatnya bersantap siang, milik orang Indonesia. Jalan yang dilaluinya terlihat sepi dan agak temaram. Sedikit sekali orang berlalu lalang saat hari menjelang malam.

Hatinya mulai gelisah. Rasa takut mulai menyelimuti kalbunya. Ingin rasanya bagi Epel untuk memutar kembali ke jalan besar yang dilalui banyak kendaraan. Namun, dia sudah terlanjur jauh berjalan menyusuri jalan kecil ini. Hampir setengah jalan. Akhirnya dengan membulatkan tekad, Epel berupaya melangkah terus.

Tiba-tiba dari jarak sepuluh meter tempatnya berdiri, terlihat seorang pria brewokan sedang memegang botol minuman keras. Pria bertopi coklat itu sedang bersandar di sebuah dinding bangunan tua.

Rasa takut kembali menerpa dirinya. Hatinya gelisah, jantungnya berdegup dengan sangat kencang dan kaki tangan Epel terasa mulai gemetaran.

Epel ingin sekali berlari sekencang-kencangnya meninggalkan jalan kecil ini. Namun dia berpikir, jikapun pria tersebut berniat jahat kepadanya, walaupun sudah berlari sekencang apapun, pria tersebut pasti dapat mengejarnya.

Apa mau dikata, jalan sudah ditempuh dan semua harus dihadapi. Hanya dengan memanjatkan doa, Epel berharap dapat dijauhkan dari musibah yang tidak diinginkannya.

Dalam setiap langkahnya, Epel selalu membacakan kalimat doa, memohon bantuan kepada Tuhan untuk keselamatan dirinya. Mulut Epel tidak berhenti berkomat-kamit membacakan doa.

Tanpa terasa, posisi Epel telah berada tepat di depan pria asing tersebut. Dengan sedikit lirikan, Epel melihat ke arah pria itu, yang terus menerus memandang ke arahnya tanpa berkedip. Namun, belum ada tanda-tanda pria itu bergeser dari tempatnya.

Hingga beberapa rumah petak sudah terlewati, Epel masih dapat merasakan tatapan penuh misteri dari pria itu. Untung saja, setelah berada di penghujung jalan kecil yang pengap, sempit dan gelap itu, ternyata pria tersebut sama sekali tidak melakukan sesuatu hal yang membahayakan dirinya.

Dengan masih menyisakan sedikit rasa takut, Epel tiba di depan hotel. Keringatnya bercucuran membasahi bajunya. Di dalam kamar, Epel berendam dalam air panas cukup lama, sembari berpikir, apa yang akan terjadi apabila pria itu benar-benar berniat melakukan tindakan kriminal kepada dirinya. Barangkali saja, kehormatannya akan terenggut, atau mungkin lebih sadisnya, dia bakal terbunuh.

Keesokan paginya, saat menikmati sarapan pagi, Epel terhenyak melihat sebuah berita di televisi tentang tindakan pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang pria mabuk.

Sosok pria yang ditampilkan di televisi bukanlah seorang yang asing lagi. Walaupun melewati jalan yang gelap semalam, namun Epel masih dapat melihat dengan jelas paras wajah pria tersebut.

Naluri keingintahuannya muncul, saat melihat begitu dekatnya waktu peristiwa pemerkosaan dengan waktunya berada di lorong semalam. Hanya selisih beberapa menit saja. Epel berniat mengunjungi pria tersebut yang saat ini berada di kantor polisi setempat.

Sesampainya di kantor polisi, Epel menceritakan semua yang telah dialaminya semalam, lengkap dengan kronologi waktunya. Ternyata hingga saat Epel tiba, pria tersebut masih beralibi tidak berada di tempat kejadian dan tidak mengaku melakukan tindakan kriminal.

Berkat informasi dan bukti-bukti yang disampaikan oleh Epel, akhirnya pria tersebut tidak mampu menghindar lagi.

Setelah meminta ijin dari pihak kepolisian, akhirnya Epel dapat bertemu dengan pria brewokan tersebut. Saat melihat kehadiran Epel, pria tersebut terlihat sangat ketakutan.

Pria brewokan : "Dimanakah kedua lelaki pengawalmu yang berbadan kekar dan memiliki pedang itu?"

Epel : "Saya tidak mengerti apa maksud kamu..."

Pria brewokan : "Semalam saat berjalan di jalan kecil, saya melihat kamu berjalan didampingi oleh dua orang lelaki, satu orang berada di samping kananmu dan seorang lagi berada di samping kirimu. Mereka menatapku dengan tajam, seolah-olah ingin memakan diriku. Dimanakah mereka sekarang?"

Epel merasa sangat heran mendengar penjelasan pria itu. Padahal dia yakin sekali, saat itu, dia hanya seorang diri berjalan dalam ketakutan.

Epel : "Jadi, itukah alasan kamu tidak mengganggu, mencelakai dan memperkosa diriku...?"

Pria brewokan : "Benar sekali... Jika saja, semalam kamu berjalan seorang diri, kamu pasti akan menjadi korbanku, bukan wanita malang itu..."

Epel merasa sangat terkejut mendengar kata-kata bernada bengis dari pria penjahat itu. Epel amat bersyukur kepada Tuhan, karena beliau masih memberinya perlindungan di kala dirinya sedang terancam bahaya.

Epel baru menyadari, sebuah bahaya sedang mengintai dirinya semalam. Namun berkat rangkaian doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan, maka tangan Tuhan segera merangkul pundaknya dan mengirimkan "dua orang lelaki kekar" untuk mengiringi langkahnya, melindungi dirinya dari ancaman mara bahaya.

"Terima kasih Tuhan. Engkau memang Maha Penyayang..."  Salam kebajikan #firmanbossini

Uang, Cinta, Manusia dan Kehidupan!

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Sabtu, 17 Juni 2017 | 13.35

 
KEBAJIKAN ( De 德 ) Ingat, jangan lukai perasaan orang yang membantumu saat kamu perlu bantuan keuangan!

Meminjam uang, rasanya benar-benar menyakitkan.

Sesuatu yang dipinjamkan kepadamu tanpa bunga itu bukan uang

Tapi kepercayaan, dorongan semangat …

Yang ditakutkan orang sekarang

Berdiri ketika meminjam uang, kemudian berlutut saat menagih utang. (kiasan-untuk orang yang pinjam uang menjadi lebih galak dari pada orang yang meminjamkan uangnya ketika ditagih)

Uang, adalah perasaan (sebagai teman/yang dipercaya) ketika dipinjamkan.

Tapi menjadi musuh ketika hendak mengambilnya (menagih)!

Saat-saat terakhir ini, apa yang paling sulit saat kamu tidak punya uang ?

Paling sulit meminjam uang!

Orang yang bersedia meminjamkan uangnya kepadamu.

Itu pasti sosok seorang dermawan/budiman-mu (orang yg membantu)

Zaman sekarang, sosok orang seperti itu tidak banyak.

Dan harus kamu hargai dan syukuri seumur hidup jika bertemu sosok orang seperti ini.

Karena uang tidak akan habis seumur hidup!

Orang yang membantu kamu itu hanya punya satu tujuan, yaitu berharap agar hidupmu menjadi lebih baik !

Orang yang bersedia membiarkanmu menggunakan uangnya, bukan karena uangnya banyak,
juga bukan karena ia bodoh,

Tapi detik itu ia merasa kamu jauh lebih penting daripada uang.

Teman bukan diukur dari kuantitas, tapi yang utama adalah bisa seiring bersama dalam suka dan duka.

Perasaan (kekentalan) persahabatan bukan diukur dari lamanya pertemanan, tapi selalu ada saat dibutuhkan

Yang disebut dengan perasaan sejati

Selama Anda inginkan, selama aku punya (Pasti akan memenuhi apapun yang diinginkan selama saya memilikinya).

Selama Anda butuhkan, selama aku bisa. (Pasti akan membantu semaksimal mungkin selama aku mampu)

Yang disebut dengan kesetia-kawanan

Bukan kata-kata manis saat merasakan kepuasan karena berhasil mendapatkan apa yang dinginkan.

Tapi uluran tangan yang bisa membantumu disaat genting/terdesak!

Jangan pamer uang Anda

Itu tak lebih dari lembaran kertas yang tak berguna saat kamu tiada.

Jangan memamerkan kemegahan rumah Anda, itu akan menjadi sarang milik orang lain saat kamu tiada.

Jangan memamerkan mobil mewah Anda, saat anda tiada, kunci mobil itu pun akan menjadi orang lain!

Uang, tidak akan pernah habis dicari, sementara hidup ada batasnya, anda bisa mati-matian mencari uang, tetapi tidak bisa membeli hidup!

Kesalahan terbesar dalam hidup manusia, adalah menukar harta duniawi dengan kesehatannya.

Tidak ada sesuatu apapun yang bisa dibandingkan dengan tubuh yang sehat !

Manusia dalam sepanjang hidupnya :

Ada yang rela membiarkan uangnya digunakan oleh anda, itu namanya kebahagiaan, jadi anda harus tahu puas diri!

Seseorang bersedia meminjamkan uangnya pada anda, itu namanya bantuan, jadi camkan baik-baik!

Uang yang bisa anda dapatkan dari hasil kerja anda sendiri, itu namanya jerih payah, jadi harus bisa puas diri dan bersyukur! Salam kebajikan (Sumber)

Dewa - Dewi

Legenda Tiongkok

PEPATAH TIONGKOK

KESETIAAN / ZHONG

TAHU MALU / CHI

KESEDERHANAAN / LIAN

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2016. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger